Dilema Investasi Jokowi

Dilema Investasi Jokowi

zuhal ristek inovasi nasional_artikel dilema investasi jokowi 1

Jokowi membutuhkan Penanaman Modal Asing (PMA) guna memenuhi pembangunan infrastruktur poros maritim-nya disamping keperluan devisit neraca berjalan perekonomiannya. Selain itu PMA sangat dibutuhkan Indonesia saat ini, mengingat pertumbuhan ekonomi kita saat ini turun ke titik terendahnya sejak 2010.

Data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia mendapatkan komitmen investasi sebesar US$27,4 miliar yang didapatkan melalui penawaran proyek investasi kepada investor serta pengusaha-pengusaha China selama KTT APEC 2014 di Beijing.

Dari data KADIN, ada setidaknya 12 proyek pertambangan, energi, dan infrastruktur yang sudah didapatkan sebagai sumber pendanaannya oleh pemerintah, yang meliputi investasi di bidang pembangkit tenaga listrik, galangan kapal, kawasan industri, jalur kereta api cepat Jakarta-Surabaya, pabrik pengolahan gula dan pengolahan tambang serta pengolahan nikel dan besi.

Menghadapi besarnya investasi asing yang ditawarkan Jokowi pada berbagai forum kunjungannya ke luar negeri khususnya pada KTT APEC di Beijing, Guru besar fakultas ekonomi Universitas Gadjah Mada, Mundrajat mengatakan, pemerintah harus lebih mengedepankan kepentingan nasional dalam menarik investor ke Indonesia karena peranan modal asing makin lama makin meningkat di negeri ini.

“Kalau kita bicara tambang, sekitar 70 persen pemainnya asing. Kita bicara perbankan sekitar 50 hingga 55 persen itu asing. Bicara pasar modal juga gitu, 50 – 60 persen dikuasai asing. Nah yang perlu kita jaga adalah agar kepentingan nasional itu nomor 1” ujarnya.

Sedangkan pandangan yang lebih nasionalistik diutarakan oleh Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy yang menilai bahwa dengan membuka peluang sebesar-besarnya terhadap asing Presiden Jokowi sama saja menyerahkan pembuluh darahnya kepada asing.

Dilain pihak pelaku pasar yang menggambarkan kepentingan kapitalis Neo-lib diutarakan oleh Doug Ramage, analis Bower Group Asia di Jakarta, “pragmatisme Jokowi jelas terlihat.” Niat Jokowi untuk mengurangi kerumitan regulasi dan membersihkan birokrasi juga akan membantu perusahaan lokal dan asing. Namun “ia belum berupaya keras mengurangi nasionalisme ekonomi yang membatasi [pertumbuhan] Indonesia.” Artinya pihak pendukung Neo-lib menghendaki regulasi yang lebih terbuka untuk memberi peluang bagi PMA di Indonesia.

Dari pandangan–pandangan diatas tampak jelas adanya tarik menarik antara kepentingan nasional dan kepentingan asing Neo-lib tentang investasi asing Jokowi. Jokowi sendiri dalam hal ini belum secara jelas menentukan sikap dan batasan-batasan yang akan diterapkannya untuk menjaga keseimbangan investasi yang diperlukan untuk sebesar besarnya bermanfaat bagi masyarakat(bukan hanya mempertimbangkan kepentingan investor).

Sebetulnya bila kita lebih cerdas memanfaatkan potensi investasi bagi kepentingan bangsa, dikotomi antara penanaman modal asing(PMA) dan nasional(PMN) pada dasarnya tidak perlu ada. Kita bisa melihat bagaimana Cina memanfaatkan investasi IBM untuk mengembangkan produk laptop dalam negerinya(Lenovo).

Hal tersebut diatas memperlihatkan bagaimana masuknya produk Cina ke dalam mata rantai nilai global dengan menggandeng reputasi perusahaan yang telah bertaraf internasional. Melalui cara Lenovo mengakuisisi divisi personal komputer IBM, telah berdampak pada percepatan akses Lenovo ke pasar luar negeri, sambil terus memperbaiki kualitas dan teknologi yang ditampilkan oleh Lenovo, sehingga saat ini telah menjadi sebuah branding yang diperhitungkan di pasar.

Indonesia memang sangat membutuhkan investasi asing untuk mengembangkan sumberdaya secara

optimal. Di sini pentingnya tekad mengubah paradigma investasi dari sekedar eksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja murah, menjadi investasi berbasis inovasi yang mengeksploitasi sumber daya pengetahuan dan ketrampilan tenaga kerja Indonesia. Indonesia harus beranjak dari investasi yang sifatnya dangkal dan jangka pendek, yang hanya mengandalkan eksploitasi sumberdaya alam semata dengan nilai tambah yang rendah, dan tenaga kerja yang murah, menjadi bentuk investasi berdasarkan pada eksploitasi pengetahuan dengan memaksimalkan transfer teknologi dan tenaga kerja terampil dan terdidik.

Berbicara tentang transfer teknologi dan penyediaan tenaga terampil, hal ini tentunya tidak akan terjadi begitu saja secara otomatis dengan adanya FdI. Upaya-upaya perlu dilakukan antara lain melalui mekanisme rantai nilai global (global value chain). Strategi ini memanfaatkan kekuatan pasar Indonesia yang besar untuk menarik FdI masuk dengan membawa produk-produk Hi-Tech yang telah berada dalam rantai nilai global. Proses alih teknologi dapat mengikuti kemudian (strategi ini yang oleh Dr. B.J. Habibie, yang dikenal dengan sebutan: Berawal dari Akhir, Berakhir di Awal). Indonesia sebenarnya telah menerapkan strategi ini yakni melalui pembangunan secara serius industri-industri strategis seperti industri kereta api, industri perkapalan, dan industri kedirgantaraan dimana salah satu produknya adalah N250.

Berbagai studi menunjukkan bahwa globalisasi terhadap rantai nilai mendukung argumentasi keikutsertaan UKM dalam rantai nilai global memberi dampak positif bagi UKM. Contoh, penataan ulang organisasi untuk meningkatkan produktivitas di tingkat internasional melalui ”outsourcing” dan pengembangan rantai nilai global, ternyata berdampak positif terhadap UKM, khususnya para suplier. Niche baru untuk mensuplai berbagai produk dan layanan (servis) terus bermunculan sebagai akibat dari fragmentasi produk. Bagi UKM, karena ukurannya yang relatif kecil, dapat dengan mudah beradaptasi terhadap perubahan-perubahan dengan memanfaatkan fleksibilitas mereka dan kemampuannya untuk bergerak cepat.

Faktor-faktor lain yang menguntungkan bagi UKM adalah:

  1. Partisipasi dalam rantai nilai global dapat mendorong pertumbuhan UKM dan meng internasionalisasikan produk-produk mereka. Hal ini memberikan peluang akses kepada UKM ke dalam pasar global dengan biaya yang lebih murah dibandingkan yang harus dikeluarkan oleh individu produsen UKM, karena adanya fungsi intermediasi yang dimainkan oleh kontraktor. Perusahaan-perusahaan yang telah berhasil mengintegrasikan satu atau lebih nilai rantai global terbukti memiliki stabilitas yang lebih tinggi dalam pengembangan bisnis mereka.

  2. Perusahaan-perusahaan kecil yang memfokuskan diri pada teknologi multifungsi, dapat mengamankan posisi mereka di pasar dengan menjadi penyedia (supplier) yang terspesialisasi melayani berbagai sektor manufakturing seperti sektor automotif dan peralatan dengan ketepatan tinggi.

  3. Bekerjasama dengan mitra usaha di hulu maupun hilir akan meningkatkan efisiensi kerja UKM. Hal ini terjadi karena adanya keuntungan-keuntungan yang sifatnya substansif seperti: terjadinya aliran informasi, transfer teknologi, dan kesempatan belajar bagi pengusaha UKM. Melalui strategi ini, para pelaku UKM akan terekspose pada proses belajar dari rekanan mereka di tingkat global, yang membuka peluang terjadinya tumpahan/aliran pengetahuan dan selanjutnya menstimulir peningkatan kemampuan sumberdaya manusia dan teknologi;

  4. Kemampuan untuk terus berinovasi dan mengikuti perkembangan teknologi terbaru dilihat oleh UKM sebagai suatu persyaratan utama kesuksesan mereka untuk dapat berpartisipasi dalam rantai nilai global. Namun demikian, untuk memperoleh manfaat maksimal dari strategi rantai nilai global, Indonesia harus benar-benar siap untuk menerima hadirnya perusahaan multinasional yang sudah berperan di panggung pasar dunia. Bahkan lebih dari itu, Indonesia harus mampu menciptakan daya tarik yang kuat, di samping keunggulan besarnya pasar, agar perusahaan-perusahaan global tersebut mau menanamkan modal dan mentransferkan teknologinya di Indonesia. Pengalaman pahit dengan perusahaan RIM (Research in Motion) patut direnungkan secara lebih dalam. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma, inovasi tidak selamanya harus bergantung pada perusahaan asing atau harus menunggu lahirnya teknologi baru melalui FdI. Pemanfaatan teknologi yang sudah ada secara kreatif dan inovatif melalui model bisnis inovasi dapat menghasilkan hal-hal yang menakjubkan.

zuhal ristek inovasi nasional_artikel dilema investasi jokowi 2a zuhal ristek inovasi nasional_artikel dilema investasi jokowi 2b